ngambil dari blognya janur, setelah sekian lama g buka wordpress, dipikir2 enak juga klo bikin dokumentasi sendiri ketimbang liat punya orang lain, wkwkwk…ok langsung aja.
Beberapa hal penting yang sebaiknya dilakukan setelah menginstall FreeBSD
Setelah menginstal FreeBSD sebagai server, ada baiknya kalau kita melakukan hal-hal berikut ini.
*****asumsi yang saya buat:
SSH sudah jalan dan komputer sudah tersambung dengan sebuah jaringan (pada kasus ini saya khususkan di lingkungan ITB, karena FreeBSD yang saya gunakan berada dalam kampus ITB)
****beberapa tambahan:
tanda // berarti comment yang dapat diabaikan (gaya bahasa java). Tanda // juga digunakan untuk mengutip isi sebuah file. Contoh:
//——————————
ISI FILE YANG DIKUTIP
//——————————
tanda # berarti status kita sebagai root, tetapi bila didalam sebuah file tanda # berfungsi sebagai comment
1. Mengeset static ip komputer
Kadangkala memang lebih enak kalau menggunakan service DHCP, tapi itu sebaiknya untuk client saja. Sedangkan untuk sebuah server sebaiknya kita men-set ip komputer dengan cara static. adapun caranya sebagai berikut:
a). Melihat status ethernet komputer, login sebagai root
# ifconfig
b). Setelah kita melihat status ethernet, kita set ip secara static. Adapun file yang harus diubah adalah /etc/rc.conf
//——————————
ifconfig_le0=”inet 167.205.44.238 netmask 255.255.255.192″
hostname=”rd-bsd.tf.itb.ac.id”
sshd_enable=”YES” // ssh ini berfungsi agar komputer kita bisa di SSH
//——————————
c). Mengeset file /etc/resolv.conf
//——————————
domain tf.itb.ac.id
search tf.itb.ac.id
nameserver 167.205.44.3
nameserver 167.205.44.123
//——————————
d). Mengatur file /etc/make.conf (file ini berfungsi juga pada saat kita menginstall paket agar ftp yang digunakan adalah ftp lokal ITB, hal ini karena di ITB sulit untuk melakukan koneksi ke luar ITB jika tidak menggunakan proxy. Lagipula di ITB juga memiliki mirror FreeBSD)
//——————————
MASTER_SITE_OVERRIDE=ftp://ftp.itb.ac.id/pub/FreeBSD/ports/distfiles/${DIST_SUBDIR}/
CPUTYPE?=i386
CFLAGS= -O2 -pipe -fno-strict-aliasing
COPTFLAGS= -O2 -pipe -funroll-loops -ffast-math -fno-strict-aliasing
CXXFLAGS+= -fconserve-space
KERNCONF= SERVER GENERIC
OPTIMIZED_CFLAGS= YES
WITHOUT_X11= YES
BUILD_OPTIMIZED= YES
WITH_CPUFLAGS= YES
WITHOUT_DEBUG= YES
WITH_OPTIMIZED_CFLAGS= YES
NO_PROFILE= YES
BUILD_STATIC= YES
//——————————
e). Hal terakhir yang penting untuk dilakukan dalam mengeset ip static ini yaitu dengan perintah terakhir ini:
# sh /etc/rc
2. Mengupdate FreeBSD menjadi versi terbaru (atau bisa juga dikatakan stable-version)
Update FreeBSD ini penting dilakukan agar paket-paket yang terinstall di komputer kita bisa terus up-to-date. Adapun pake yang digunakan adalah cvsup. Paket ini tersedia di port collection FreeBSD.
a). Pastikan file /etc/make.conf telah sesuai dengan tutorial di atas
b). masuk ke ports collection yang mengandung cvsup kemudian menginstall paket tersebut
# cd /usr/ports/net/cvsup
# make config install clean
c). Setelah cvsup selesai di install. kita kembali ke home direktori (terserah mau ke user mana, atau kalo mau ke akun root juga boleh). Kemudian kita buat 2 buah file yang bernama “cvs-itb” dan “ports-itb”.
Isi file cvs-itb :
//——————————
*default tag=.
*default host=fileserver.lapi.itb.ac.id
*default base=/var/db
*default prefix=/usr
*default release=cvs
*default delete use-rel-suffix compress
src-all
//——————————
Isi file ports-itb :
//——————————
*default tag=.
*default host=fileserver.lapi.itb.ac.id
*default base=/var/db
*default prefix=/usr
*default release=cvs
*default delete use-rel-suffix compress
ports-all
//——————————
d). Setelah membuat kedua file tersebut, kita jalankan perintah
# cvsup -g -L2 cvs-itb ; cvsup -g -L2 ports-itb
e). Hal terakhir yang harus dilakukan adalah MENUNGGU, karena proses ini memakan waktu kira-kira sampai 59 menit
setelah cvsup, akan lebih baik jika kita mengupdate juga ports tree yg ada, hal ini dpt dilakukan dengan cara berikut:
# pkgdb -F
# portupgrade -a
ATAU
# portmaster -a
3. Install Text Editor Kesukaan Kita
Pada saat saya pertama kali menggunakan linux, text editor yang saya gunakan adalah vim. Sehingga sampai saat ini saya sangat gemar menggunakan text editor tersebut karena sudah familiar dengan text editor tersebut. Cara instalasi Vim sangat sederhana, yaitu (ketik pada command line):
# cd /usr/ports/editor/vim-lite
# make config install clean
Setelah vim di install, ada beberapa hal yang perlu kita set, yaitu file .vimrc (file ini sangat saya anjurkan terdapat di dalam home direktori kita bila kita ingin menggunakan vim, termasuk akun root juga sangat saya anjurkan memiliki file ini jika ingin menggunakan vim). Isi file .vimrc ini sebagai berikut:
//————————————-
set nocompatible
//————————————-
4. Install bash
Saya sudah terbiasa menggunakan linux yang secara default menggunakan shell bash. Karena itu ketika saya menggunakan FreeBSD yang secara default menggunakan shell sh saya menjadi sedikit canggung. Hal ini disebabkan karena kebiasaan saya yang suka menekan tombol TAB supaya bisa auto-complete. Karena itu saya menginstall bash dan mengganti shell environtment saya dengan bash. Cara install bash:
# cd /usr/ports/shells/bash
# make config install clean
Kemudian kita ganti default shell yang kita gunakan. Perintah umum yang digunakan untuk mengganti shell:
chsh <spasi> -s <spasi> <path shell yang digunakan> <spasi> <username>
5. Install gnuls
Kita pasti telah mengetahui perintah “ls” yang digunakan di dalam command line. Tapi sayangnya secara default perintah ini tidak menampilkan warna pada monitor sehingga kita sulit untuk membedakan antara file, folder, shortcut, ataupun yang lainnya. Instalasi gnuls dengan menggunakan ports collection FreeBSD.
# /usr/ports/misc/gnuls
# make config install clean
Setelah kita menginstall pake tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita setting, yaitu file .bashrc dan .bash_profile . Adapun baris perintah yang digunakan adalah sama pada kedua file ini, yaitu:
//————————————-
alias ls=’gnuls –color=auto -a’
//————————————-